Utang: Alat Penyelamat, Bukan untuk Senang-Senang | Finmas - Sahabat Finansial Indonesia
Utang: Alat Penyelamat, Bukan untuk Senang-Senang

Utang: Alat Penyelamat, Bukan untuk Senang-Senang

27/11/2019
@kumparanBISNIS

Summary:

  1. Memiliki utang menurut pandangan awam bukanlah hal baik, tetapi tidak selamanya utang itu buruk.
  2. Berutang menjadi bagian yang tidak terhindarkan dalam keuangan pribadi seseorang.
  3. Fungsi utang adalah membantu seseorang mengelola keuangan, terutama saat terjadi kebutuhan yang mendesak.

Menyikapi utang memang tidak mudah. Meski sering mendapat citra buruk, faktanya produk utang atau yang juga jamak disebut kredit terus laku di pasaran dan transaksinya cukup meningkat.

Data dari Bank Indonesia, sepanjang 2018 nominal transaksi menggunakan kartu kredit mencapai Rp 284,06 triliun. Capaian tersebut meningkat 5% secara year on year dibandingkan posisi yang sama pada tahun lalu dengan nominal transaksi Rp 270,53 triliun.

Mudahnya proses pembuatan kartu kredit dan fasilitas kredit, seperti pembayaran (cicilan) secara minimum yang ditawarkan, membuat banyak orang terlena menggunakan kartu kredit untuk berutang. Tak heran mengingat sekarang apa pun bisa dikreditkan — dari smartphone canggih sampai paket wisata liburan.

Tapi bijakkah berutang untuk hal-hal yang bersifat leisure atau kesenangan semata?

Meski bukan sesuatu yang diharamkan, berutang untuk hal yang bersifat senang-senang tidak disarankan. Utang semestinya hanya digunakan untuk sesuatu yang bersifat mendesak atau memang karena kebutuhan yang akan berdampak pada produktivitas seseorang.

Misalnya: berutang untuk membayar biaya pengobatan ketika sakit melanda karena dana cadangan tak cukup, berutang untuk mengembangkan suatu usaha atau bisnis, atau berutang untuk membeli barang guna meningkatkan produktivitas kerja seperti laptop atau sepeda motor.

Cara berpikir inilah yang perlu diedukasikan di Indonesia. Pasalnya, berutang untuk hal yang tidak penting kerap membuat seseorang menjadi sangat konsumtif dan cenderung boros. Orang yang sudah konsumtif dan boros dalam hidupnya pasti tidak bisa mengontrol keinginan atas pengeluaran.

Sering kali terjadi, dalam pengelolaan pengeluaran dan penghasilan, pengeluaran menjadi tidak terkendali untuk keinginan padahal kebutuhannya belum terlaksana. Contoh sederhananya, uang sudah habis untuk hang out: makan di restoran fancy dan menonton film setiap minggu, padahal uang untuk membayar listrik, makan dan transportasi sebulan belum dianggarkan. Akibatnya ketika tiba saat bayar listrik atau kebutuhan utama lainnya, tidak ada dana cadangan. Maka mau tidak mau harus berutang. Tidak heran bila kita sering melihat kasus seseorang yang dililit hutang karena alasan yang kurang penting.

Memiliki utang bukanlah hal yang baik, tetapi tidak selamanya utang itu buruk. Jika berutang untuk alasan yang tepat seperti kebutuhan yang mendesak atau kebutuhan produktif, maka berutang adalah sesuatu yang wajar karena menjadi bagian dari pengelolaan keuangan agar kondisi finansial tetap terjaga dan pengaturan keuangan dapat berjalan lancar. Terpenting saat berutang adalah cerdas dalam mengelola hutang dan memilih sumber utang yang tepat dan tidak memberatkan Anda.

Utang adalah salah satu cara darurat untuk kondisi yang mendesak, bukan untuk senang-senang. Oleh karena itu, selalu persiapkan diri Anda untuk #PilihPakeYakin produk finansial yang dapat membantu Anda di saat kondisi darurat.

PERHATIAN