Sumber Daya Manusia Corong Utama Hadapi Digitalisasi | Finmas - Sahabat Finansial Indonesia
Sumber Daya Manusia Corong Utama Hadapi Digitalisasi

Sumber Daya Manusia Corong Utama Hadapi Digitalisasi

12/12/2019
Euis Rita Hartati

JAKARTA, investor.id - -Peningkatan sumber daya manusia menjadi penting dalam peralihan menuju zaman digitalisasi. Jika hal ini tidak dilakukan, 56 persen penduduk Indonesia akan kehilangan pekerjannya. Namun, semuanya akan tertolong karena era digitalisasi akan menciptakan lapangan kerja baru melalui inovasi dan kreativitas.

Berdasarkan riset McKinsey, guna mencapai sasaran tersebut, Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja yang “melek” digital, dengan komposisi 30 persen di industri manufaktur dan 70 persen di industri penunjangnya. Jika ini terealisasi, maka bukan tidak mungkin jika Indonesia bisa menambah pemasukan ekonomi hingga US$ 150 miliar.

Pelaku usaha atau perusahaan menjadi subjek yang paling penting dalam era digitalisi khususnya dalam upaya peningkatan kompetensi SDM. Langkah ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, yang menginginkan pembangunan nasional lewat pembangunan SDM yang berkualitas, seperti menjalankan program pendidikan dan pelatihan vokasi yang lebih masif.

Peran Human Resources Departemen (HRD) di setiap perusahaan harus menjadi yang terdepan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menghadapi tantangan dari industri digitalisasi.

“Jika hal ini tidak dilakukan, maka akan terdampak kepada 18 juta pekerja atau US$ 442,6 miliar di Indonesia pada tahun 2030. Ini hampir semua terjadi di seluruh negara,” kata Vice Chairman Korn Ferry Hay Group Indonesia Sylvano Damanik dalam diskusi tentang “Digital Economy Talent Gap and Workforce Challenges” yang diselenggarakan Sinar Mas dan PT Oriente Mas Sejahtera (Finmas) di Jakarta, Rabu (23/10).

Sementara itu, CEO Happy5 Doni Priliandi mengatakan, kesalahan transformasi digital, bukan karena digital, tapi transformasi perilaku. Peran pemimpin atau CEO sangat diperlukan di perusahaannya, bukan hanya peran human resources.

“Jadi kegagalan transformasi digital bukan karena digitalnya, tetapi orang-orangnya yang tidak bisa beradaptasi,” katanya.

Dalam acara tersebut, juga dibahas tentang perusahaan yang beralih ke dunia digital. Hal ini karena digitalisasi bisa dipandang sebagai peluang. Dua diantara perusahaan yang menyadari hal tersebut adalah PT Pegadaian dan Sinar Mas.

BUMN PT Pegadaian tersebut akan mengeluarkan produk-produk secara digital. Produk-produk akan dikeluarkan lewat aplikasi dan website.

“Kami akan masuk ke bisnis mikro untuk pinjaman Rp25 juta ke bawah. Kami akan masuk ke digital lending. Ini merupakan cara kami menghadapi atau memanfaatkan digitalisasi,” kata Mh. Edi Isdwiarto, Direktur SDM dan Hukum PT Pegadaian.

Dalam era digitalisasi ini, lahirnya inovasi-inovasi terbaru berbasis teknologi semakin tak terbendung, tak terkecuali dalam bidang keuangan atau yang biasa disebut financial technology (fintech).

Sebagai salah satu perusahaan korporasi terbesar di Indonesia, Sinas Mas mampu melihat peluang tersebut. SINAR MAS mampu memanfaatkan era digitalisasi dengan berinovasi membangun startup financial technology (fintech) FINMAS (PT Oriente Mas Sejahtera) gabungan dari perusahaan multi nasional Oriente.

“FINMAS adalah perusahaan fintech yang fokus pada kaum menengah ke bawah dan milenial dimana tahun ini FINMAS memfokuskan peningkatan literasi keuangan di seluruh Indonesia,” kata Rainer Emanuel, Head of PR Finmas.

Dia mengatakan, geliat sektor fintech di Indonesia telah merambah ke berbagai sektor, seperti startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), uang elektronik, dan lain-lain.

PERHATIAN