Sejumlah konglomerasi menggarap bisnis fintech, begini strategi yang disiapkan | Finmas - Sahabat Finansial Indonesia
Sejumlah konglomerasi menggarap bisnis fintech, begini strategi yang disiapkan

Sejumlah konglomerasi menggarap bisnis fintech, begini strategi yang disiapkan

12/12/2019
Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jaringan bisnis konglomerasi kian membesar. Apalagi mereka mulai memperluas bisnisnya ke industri financial technology (fintech) lending. Tercatat ada tiga fintech lending yang terhubung dengan para konglomerasi baru mendapat izin penuh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Bermodal jaringan bisnis yang luas, mereka manfaatkan untuk mengerek jumlah penyaluran kredit. Pertama, Grup Astra melalui PT Astra Welab Digital Arta (AWDA) dengan nama platform Maucash. Presiden Direktur AWDA Rina Apriana mengaku memanfaatkan cabang-cabang jaringan Astra sebagai jalur offline penyaluran kredit Maucash.

“Bahkan di aplikasi Maucash, ada tombol khusus untuk karyawan Astra sehingga mereka dapat bertransaksi dengan nyaman,” kata Rina kepada Kontan.co.id, Senin (14/10).

Menurutnya, pengembangan ekosistem di Astra Grup menjadi strategi dan market produk yang tepat bagi Maucash. Selain memanfaatkan ekosistem Grup, Maucash juga berencana keluarkan produk pembiayaan produktif.

Maucash masih mempelajari dan mempersiapkan strategi untuk menjangkau market produktif, sektor yang disasar serta pengelolaan underwriting dalam menekan risiko. Sejak diluncurkan tahun 2018 lalu, aplikasi Maucash telah diunduh lebih dari 1 juta pengguna Android. Maucash mengklaim sudah memproses 500.000 aplikasi pinjaman.

Kedua, Sinar Mas dengan platform Finmas. Ini merupakan fintech yang berada di bawah PT Oriente Mas Sejahtera. Kepala Komunikasi Korporat Finmas Rainer Emanuel menyatakan dengan status izin OJK membuka kesempatan lebih besar untuk berinovasi dan berkolaborasi mengembangkan bisnis, produk, layanan termasuk dengan Grup Sinarmas.

“Kami lebih ke channeling dan network komunitas atau across group. Finmas tidak hanya karyawan Sinar Mas,” ujarnya.

Rainer belum mau mengungkapkan berapa target pengguna dan penyaluran kredit di 2019. Yang jelas, Finmas menargetkan skalabilitas produk cash loan terutama produktif dan multiguna untuk kebutuhan sandang, pangan, pendidikan kesehatan. Dengan begitu masyarakat Indonesia bagian barat dan timur mendapatkan akses keuangan lebih besar.

Ketiga Group Djarum. Bisnis Djarum melalui unit usaha Bank Central Asia (BCA) yaitu Central Capital Ventura yang memiliki saham di fintech KlikACC yang izinnya baru saja dikeluarkan oleh OJK. Direktur Utama KlikACC Peter Djatmiko mengungkapkan bahwa pihaknya memanfaatkan sinergi dengan Bank BCA.

"KlikACC akan menjadi channeling dengan BCA untuk menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR). Yang sudah mulai berjalan adalah KUR untuk petani tembakau dan dokter mata, dan sedang dirintis KUR untuk petani jagung, petani garam dan peternak ayam,” ungkap Peter.

Selain sebagai partner channeling, kerja sama dengan BCA untuk transfer dana, virtual account dan sebagian menggunakan bank BCA. Sedangkan untuk kustodian atau penitipan jaminan kredit (collateral) menggunakan BCA Finance.

Adapun kerja sama penyaluran KUR dengan BCA baru dimulai, maka itu belum dapat diproyeksi berapa penyaluran kredit yang dibidik. Secara umum, dalam 1 tahun ke depan, KlikACC memproyeksi penyaluran kredit kepada 5.000 petani dengan nilai pinjaman Rp 25 juta dan frekuensi pinjaman sebanyak 4 kali per tahun.

“Maka total nilai kredit yang disalurkan Rp 500 miliar. Jumlah 5.000 petani itu sangat kecil dan realistis mengingat masih ada jutaan petani di Indonesia,” tambahnya.

Mayoritas pendanaan KlikACC berasal dari pemegang saham BCA dan mitra lain. Untuk pendana publik saat ini masih tertutup sampai menunggu model bisnis KlikACC matang dan persentase Non-Performing Loan (NPL) secara statistik jelas.

PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) menilai potensi persaingan dengan pemain lain bisa terjadi jika produk ditawarkan sejenis tapi tetap membuka kemungkinan berkolaborasi. Pemegang saham Akseleran adalah Ivan Nikolas Tambunan, Mikhail R. A. Tambunan, Christopher Joutua, PT Kemakmuran Invest dan PT Ahabe Niaga Selaras.

CEO & Co-Founder Akseleran Ivan menyatakan semua bisnis keuangan konvensional memang harus masuk digital agar tidak ketinggalan dengan yang lain. “Itu sebabnya, startup harus selalu punya keunggulan kompetitif. Kalau tidak, jadi tidak bisa bersaing,” ujarnya.

Meski punya jaringan bisnis kuat, tapi Akseleran mengklaim punyai agile lebih baik, yang merupakan pengembangan perangkat lunak untuk menghasilkan produk yang lebih akurat. Tanpa itu, volume kredit perusahaan konglomerasi cenderung tumbuh melambat. Misalnya saja, e-commerce yang bisa bertahan bukan ditopang perusahaan besar tapi memiliki daya saing.

PERHATIAN