Penyedia Pinjaman Skala Kecil

Penyedia Pinjaman Skala Kecil

12/07/2019

Finmas menyediakan solusi cashflow kelas menengah ke bawah

Bagi Peter Lydian Sutiono, ceruk bisnis keuangan mikro punya prospek menarik yang sayang untuk dilewatkan. Satu data yang membuat dia sadar akan potensi bisnis ini adalah jumlah pemakai kartu kredit, yang baru mencapai 3 persen dari total penduduk Indonesia. "Orang yang punya akun bank bisa 50 persen dari total penduduk, tapi mereka masih belum terjangkau pendanaan," ujar Peter kepada Tempo.

Karena itu pula, Peter, yang sebelumnya bekerja di Microsoft, rela melepas kariernya. Pada pertengahan 2018, dia mendirikan Finmas, penyedia layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) peer to peer. Lewat perusahaan rintisan (start-up) ini, Peter mempertemukan peminjam atau debitor dan pemilik dana atau kreditor. "Potensi bisnis di sektor ini terlalu besar untuk digarap sendiri," kata dia.

Bermodalkan konsep bisnis yang dia susun, Peter lantas mendapat sokongan pendanaan dari salah satu grup konglomerasi Tanah Air, Sinar Mas, melalui Sinar Mas Digital Ventures. Berbeda dengan teknologi finansial (tekfin) lain, Peter menargetkan pangsa pasar spesifik, yakni debitur dengan plafon pinjaman kecil, mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 1,5 juta. Produk tersebut dibagi atas dua cluster, yakni Finfast Rp 200-500 ribu dan Fincash Rp 500 ribu-1,5 juta.

Meski marginnya kecil, Peter menganggap segmen tersebut merupakan yang paling banyak potensinya. Menurut dia, pinjaman senilai Rp 200 ribu bisa bermanfaat bagi masyarakat. Seorang pedagang bakso, Peter memberi contoh, meski bisa mendapatkan laba Rp 150 ribu sehari, tidak memiliki sisa uang untuk ditabung. Pinjaman Rp 200 ribu berguna untuk meningkatkan kapasitas produksi yang berujung pada peningkatan laba yang bisa dialihkan ke simpanan.

Untuk bisa memperoleh pinjaman, calon debitor cukup mengakses situs dan aplikasi Finmas yang sudah tersedia di toko aplikasi telepon seluler. Syaratnya cukup memberikan data kartu tanda penduduk. Untuk pinjaman yang plafonnya tinggi, calon peminjam wajib melampirkan dokumen lain seperti kartu pegawai.

Selama hampir dua tahun, jumlah pengguna Finmas menembus 1 juta orang. Peter mengklaim tingkat kredit bermasalahnya rendah, di bawah 1 persen. Berkat pengalamannya di dunia digital, dia menciptakan mesin pembelajaran yang mampu mendeteksi tanda-tanda debitur nakal. "Ada tiga tipe. Pertama, peminjam memakai nama palsu. Kedua, peminjam yang niat bayar tapi tak mampu. Ketiga, peminjam mampu tapi tidak punya niat bayar," ujar Peter.

Finmas kini mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta sertifikasi keamanan data ISO 27001. Sertifikat tersebut mengharuskan kerahasiaan data antar-divisi yang tidak boleh disebarkan meski berada dalam satu perusahaan.

Demi menjaga keamanan dan kelangsungan operasional yang berkelanjutan, Finmas mempekerjakan lebih dari 500 orang. Urusan kepatuhan, standar kerja, dan hukum pun dibawahi oleh sebuah direktorat yang independen.

OJK mencatat penetrasi tekfin terus meningkat. Hingga Juni ini, Finmas sudah menyalurkan pinjaman hingga Rp 41,04 triliun. "Kami dukung peran fintech dalam inklusi keuangan, tapi tetap harus mengikuti peraturan, perizinan, dan pengawasan yang ketat dari kami," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, Kusheryansyah, mengimbau agar masyarakat tetap waspada sebelum meminjam dana melalui fintech. Fintech menawarkan kemudahan, kata dia, tapi tak tertutup kemungkinan ada yang beroperasi secara ilegal. "Cek dulu perizinannya atau bisa cek melalui Asosiasi," katanya.

Sumber : Koran Tempo

PERHATIAN

Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan layanan FINMAS ini.

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “FINMAS”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

·       Setiap transaksi dan kegiatan pendanaan atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pendanaan antara atau yang melibatkan FINMAS, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh FINMAS sehingga FINMAS wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.