Oriente Dukung Ekosistem Keuangan Inklusif di Indonesia

Oriente Dukung Ekosistem Keuangan Inklusif di Indonesia

12/12/2019
Feriawan Hidayat

Jakarta, Beritasatu.com - Perkembangan era digital dengan tingkat persaingan yang semakin ketat di pasar, membuat perusahaan teknologi dituntut untuk mengedepankan inovasi dan strategi bisnis mumpuni demi menjangkau pasar lebih luas. Berkolaborasi dan membuka ekosistem digital, dinilai menjadi langkah yang tepat untuk mengejar kecepatan mencapai pasar.

Co-Founder Oriente, Geoffrey Prentice, mengatakan, ketika sektor digital menjadi pemain utama, teknologi memiliki potensi untuk melayani sebagai agen transformasi di sektor jasa keuangan.

"Di Oriente, kami membangun infrastruktur layanan keuangan yang cerdas, adil, dan andal dengan teknologi yang bertujuan membantu jutaan orang yang tidak memiliki rekening bank, masyarakat yang kurang terlayani, dan kalangan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), dan pelaku bisnis untuk membuka peluang dan meningkatkan potensi ekonomi mereka,” ujar Geoffrey Prentice dalam wawancara khusus dengan Beritasatu.com, di Kempinski Hotel Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut pria yang menghabiskan tujuh tahun sebagai mitra pendiri di Atomico, sebuah perusahaan VC global terkemuka dengan lebih dari US $ 2 miliar dalam aset yang dikelola, kurangnya akses kredit yang terjangkau bahkan untuk kalangan kelas menengah, merupakan masalah yang bernilai triliunan dolar.

"Ini adalah hasil dari sistem keuangan yang salah, dimana sistem keuangan tersebut meremehkan jutaan orang. Kami sangat percaya, kredit harus digunakan sebagai alat untuk kemajuan dan menghasilkan peluang,” tegasnya.

Oriente sendiri memiliki misi untuk mempercepat inklusi keuangan dengan memperkuat kredit dan transaksi melalui jaringan offline-to-online (O2O) yang tumbuh cepat di Asia Tenggara. Sebagai perusahaan teknologi finansial, Oriente telah meluncurkan dua platform fintech di Indonesia (Finmas) dan Filipina (Cashalo) yang tumbuh dengan sangat cepat.

"Oriente memiliki 85 persen kepemilikan di Finmas, sementara 15 persen dimiliki oleh Sinar Mas. Selain itu, kami juga beroperasi di Filipina dan Vietnam, dan berencana untuk terus memperluas ekspansi bisnis ke sejumlah negara Asia Tenggara lainnya,” tambah Geoffrey.

Menurutnya, aplikasi Finmas sendiri dirancang sebagai solusi bagi masyarakat dan UMKM yang tidak memiliki akses ke perbankan tradisional seperti rekening bank, peringkat kredit dan riwayat pembiayaan. Dengan memanfaatkan generasi terkini teknologi mobile dan data, Finmas telah memberdayakan puluhan ribu orang Indonesia untuk membangun masa depan finansial, sekaligus mempercepat inklusi keuangan bagi setiap masyarakat di Indonesia.

"Finmas memiliki tujuan membantu jutaan orang Indonesia membuka potensi keuangan mereka melalui pendekatan yang didasarkan pada prinsip-prinsip tanggung jawab, keamanan, kenyamanan, dan keterjangkauan," tegasnya.

Untuk ribuan pedagang atau merchant yang telah menjadi mitra, kata Geoffrey, platform yang dikembangkan Oriente menyediakan cara baru untuk mencapai basis konsumen yang sangat besar dan kurang terlayani. Terlebih, Oriente sendiri memiliki basis pengguna terdaftar lebih dari 2,7 juta dan terus bertambah.

Pihaknya juga terus membangun jaringan mitra yang terdiri dari hampir 100 mitra, ditambah lebih dari 400 lokasi ritel offline, dengan target pertumbuhan 1.600 lokasi pada kuartal keempat 2019 dan 6.000 lokasi pada kuartal kedua 2020.

"Platform fintech yang kami luncurkan telah membantu mitra pedagang meningkatkan penjualan hingga lebih dari 20 persen. Kami meluncurkan platform ini sekitar setahun yang lalu, dan telah melayani lebih dari 2,5 juta konsumen, serta membantu lebih dari 1,5 juta orang dalam membangun identitas finansial mereka,” tambahnya.

Geoffrey menegaskan, Oriente memiliki tujuan sederhana yaitu memberikan akses kredit yang cepat, nyaman, dan aman, serta terjangkau, bagi jutaan konsumen dan kalangan pemilik usaha kecil di pasar Asia Tenggara, yang belum terlayani oleh sistem perbankan konvensional.

"Solusi teknologi yang kami bangun, sangat mempertimbangkan kebutuhan konsumen. Hal itu berdasar pemahaman bahwa sebagian besar dari kalangan underbanked, belum sepenuhnya memahami teknologi digital, namun mereka mencari solusi keuangan yang cepat dan andal,” tambah mantan Chief Strategy Officer (CSO) Skype ini.

Menurut Geoffrey, Oriente menggunakan teknologi pembelajaran mendalam untuk menyalurkan kredit kepada konsumen di Asia Tenggara. Sistem yang dimiliki Oriente menggabungkan teknologi dengan sistem offline yang telah terbukti mengurangi risiko penipuan. Dengan fokus pada penyederhanaan dan digitalisasi pembiayaan bagi konsumen, Oriente bertujuan membangun ekosistem keuangan yang lebih inklusif secara digital.

"Solusi yang kami tawarkan, memanfaatkan kekuatan kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan algoritma anti-penipuan untuk menentukan kelayakan kredit pemohon, dalam waktu singkat hanya beberapa menit. Data yang kami miliki, sangat membantu dalam melakukan verifikasi dan menilai kelayakan kredit,” jelasnya.

Geoffrey menambahkan, pihaknya melihat potensi Oriente untuk menjadi perusahaan teknologi finansial terdepan yang memberdayakan inklusi keuangan setiap individu di Asia Tenggara, yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tercepat.

"Saat kami melihat ke masa depan, kami akan mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat membawa efisiensi dan transparansi lebih lanjut ke layanan keuangan dan ekosistem O2O di Asia Tenggara yang terus berkembang," pungkasnya.

PERHATIAN

Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan layanan FINMAS ini.

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “FINMAS”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

·       Setiap transaksi dan kegiatan pendanaan atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pendanaan antara atau yang melibatkan FINMAS, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh FINMAS sehingga FINMAS wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.