Finmas Buka Potensi Keuangan Masyarakat Kecil Lewat Teknologi

Finmas Buka Potensi Keuangan Masyarakat Kecil Lewat Teknologi

23/04/2019

Mencapai inklusi finansial tak hanya terpenuhi dengan pemberian kredit, tetapi dibutuhkan pendidikan untuk memahami penggunaan pinjaman dan pembiayaan yang bertanggung jawab, cara mengatur keuangan pribadi dan keluarga yang baik serta mengerti seluk beluk mengelola bisnis, sehingga masyarat menjadi melek finansial.

Memiliki kemampuan menganalisis dan memanfaatkan pengetahuan untuk membuat keputusan keuangan yang baik adalah keterampilan inti untuk berhasil di dunia saat ini.

Di zaman berteknologi modern seperti sekarang ini sungguh menyedihkan untuk melihat masih banyak orang-orang disekitar kita yang terpinggirkan.

Para generasi digital native dan investor yang berhati filantropis melihat kenyataan ini dan menilai bahwa teknologi dapat menjadi akselerator dan penyeimbang sehingga bermanfaat dan berdampak positif bagi kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat luas.

Hal yang diperlukan adalah sekumpulan orang yang berani untuk membawa perubahan dan tanggap melihat keadaan ini sebagai peluang bisnis. Masalah keuangan dapat diatasi dengan perhatian dan pengertian layaknya seorang sahabat.

Peter Lydian, Presiden Direktur Finmas mengatakan, Finmas bertujuan untuk membantu jutaan orang Indonesia (terutama masyarakat kecil) membuka potensi keuangan mereka melalui pendekatan #SahabatFinansial yang didasarkan pada prinsip-prinsip tanggung jawab, keamanan, kenyamanan, dan keterjangkauan.

"Kami bersyukur menerima dukungan dan bimbingan OJK dan Sinar Mas di samping sumber daya dan keahlian teknologi dari Oriente dalam perjalanan kami untuk menjangkau setiap pengusaha mikro dan konsumen Indonesia yang kurang terlayani,” ujar Peter dalam keterangannya, Senin (15/4/2019).

Ia mengklaim, sahabat finansial masyarakat itu adalah teknologi. Penetrasi smartphone telah memajukan serta menata ulang digitalisasi sektor finansial, memudahkan akses keuangan dan merubah pola-pikir dan perilaku masyarakat Indonesia, serta membuat sistem ekonomi Indonesia menjadi lebih efisien.

Digital Jadi Platform Utama

"Dengan demikian digital menjadi platform utama koneksi antar-lembaga untuk melayani konsumen. Kegiatan bisnis offline masyarakat akan diintegrasikan dengan kemudahan online para pemain atau lembaga penyedia keuangan," ucap Peter menambahkan.

Ia melanjutkan, teknologi juga menjadi sahabat konsumen yang memberdayakan masyarakat untuk mengubah pola pikir dan perilaku mereka, menciptakan generasi yang terpelajar dan Fintelect.

"Teknologi merupakan sahabat publik yang mampu memberdayakan kemajuan dan pemerataan ekonomi dengan menyediakan akses ke kredit, membangun identitas finansial, membuka kunci potensi kemandirian finansial," imbuhnya.

Teknologi adalah sahabat sektor jasa keuangan dengan mengintegrasikan rantai nilai finansial; tradisional dan modern serta hulu dan hilir. Mengubah tatanan kompetisi tetapi tidak mengganggu ekosistem.

Teknologi mendukung pemerintah dengan memberi energi pada sistem keuangan, memajukan mesin ekonomi sehingga Indonesia gesit, mudah beradaptasi dengan kekuatan ekonomi dan politik dunia yang kerap berubah.

"Diharapkan dengan keberadaan asosiasi, industri fintech P2P lending dapat bertumbuh kuat dan sehat serta bermanfaat bagi kalangan yang belum terlayani oleh lembaga keuangan konvensional. Di Indonesia, fintech ditujukan untuk inklusi keuangan," ujar Adrian Gunadi, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia.

Sumber : Liputan6.com
Ilustrasi Fintech. Dok: edgeverve.com

PERHATIAN

Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan layanan FINMAS ini.

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “FINMAS”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

·       Setiap transaksi dan kegiatan pendanaan atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pendanaan antara atau yang melibatkan FINMAS, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh FINMAS sehingga FINMAS wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.