Bijak Memilih Fintech di Indonesia

Bijak Memilih Fintech di Indonesia

28/11/2019

Summary:

  1. Jumlah fintech di Indonesia semakin banyak. Area yang dicakup fintech pun makin beragam, dari e-wallet hingga lending
  2. Walaupun kehadiran fintech dapat membantu ekonomi masyarakat di era teknologi kini, pengguna tetap perlu bijak memilih fintech yang tepat
  3. Meski jumlah fintech semakin banyak, Anda harus tetap bijak dalam memilih fintech yang tepat.

Kemajuan teknologi smartphone yang pesat membuat cara hidup kita bergeser perlahan-lahan. Contohnya, apabila generasi-generasi sebelum kita kesulitan untuk berkomunikasi jarak jauh, kini kita bisa bercakap-cakap dengan orang di belahan dunia lain dengan cepat dan mudah. Begitu pula cara kita melakukan kegiatan ekonomi berbeda dengan orang tua kita dulu berkat kecanggihan zaman.

Mengirim uang ke orang tua? Kini bisa dilakukan lewat smartphone. Membeli barang atau makanan saat tidak membawa dompet? Sekarang ada e-wallet yang bisa digunakan. Bahkan jika membutuhkan pinjaman dana untuk kebutuhan mendesak, sekarang Anda bisa memanfaatkan kehadiran financial technology (fintech) di bidang lending atau kredit lewat smartphone.

Fintech memang semakin bertumbuh pesat kehadirannya di Indonesia, apalagi melihat perilaku masyarakat yang semakin tidak terlepaskan dari smartphone. Ada banyak fintech yang menawarkan berbagai fitur dan layanan untuk menarik masyarakat agar menggunakan aplikasi mereka.

Namun, perkembangan fintech harus dilihat dari dua sisi. Walaupun memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat, ternyata ada pula fintech ilegal yang justru malah merugikan konsumen.

Karenanya, kita harus bijak di era teknologi ini dengan memilih fintech yang benar-benar aman dan bermanfaat bagi keuangan Anda.

Kiat Memilih Fintech yang Aman

Agar tidak terjerumus oleh fintech ilegal, di bidang apapun, Anda harus mengecek beberapa hal sebelum menentukan pilihan apakah akan menggunakan fintech tersebut atau tidak.

Pertama, cek profil dan riwayat dari fintech tersebut. Pastikan apakah fintech tersebut terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Fintech yang terverifikasi oleh lembaga resmi tentunya bisa memberikan rasa aman yang lebih bagi penggunanya. Perhatikan juga apakah fintech tersebut pernah terjerat kasus atau tidak sebelumnya.

Kemudian, kamu juga bisa bertanya kepada keluarga atau teman yang sudah menggunakan layanan fintech agar mengetahui fintech mana yang bereputasi baik dan mana yang harus dihindari. Bisa juga membaca review aplikasi atau komentar sosial media mengenai fintech tersebut.

Lalu, baca juga Syarat dan Ketentuan yang disediakan fintech dengan teliti. Terlebih untuk fintech lending - lihat berapa jumlah bunga yang dikenakan, berapa lama waktu peminjaman, dan hal-hal penting lainnya. Sementara untuk fintech yang mengizinkan Anda menaruh uang di dalamnya seperti e-wallet, pastikan dana Anda aman dan dapat dengan mudah dipindahkan. Hal-hal kecil seperti ini seringkali diabaikan oleh pengguna, padahal sangat penting untuk diperhatikan.

Terakhir, perhatikan pula bagaimana aplikasi fintech dapat mengakses data di hp Anda. Pastikan aplikasi fintech yang Anda gunakan aman dan tidak menggunakan data pribadi Anda dengan tidak semestinya.

Singkatnya, selalu #PilihPakeYakin aplikasi fintech yang aman, dapat dipercaya, dan terdaftar resmi di OJK. Dengan lebih bijak dalam memilih fintech, Anda dapat mendapatkan manfaat maksimal dari perkembangan teknologi finansial ini dan bukannya malah terjebak karena iming-iming promosi semata.

PERHATIAN

Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan layanan FINMAS ini.

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “FINMAS”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

·       Setiap transaksi dan kegiatan pendanaan atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pendanaan antara atau yang melibatkan FINMAS, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh FINMAS sehingga FINMAS wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.