5 Anggapan yang Salah Soal Utang

5 Anggapan yang Salah Soal Utang

27/11/2019
kumparanBISNIS

Summary:

  1. Banyak anggapan miring yang beredar di masyarakat tentang keberadaan utang.
  2. Adanya stigma negatif tentang utang, membuat banyak orang yang berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya.
  3. Utang perlu dilihat sebagai alat bantu di kala mendesak, atau salah satu cara dalam pengelolaan keuangan.

Kebutuhan hidup yang semakin tinggi, belum lagi ditambah dengan keinginan pribadi yang seakan tidak pernah ada habisnya, membuat utang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia. Walaupun begitu, hingga saat ini utang masih selalu dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif.

Banyak anggapan miring yang beredar di masyarakat tentang keberadaan utang. Hal tersebut akhirnya membuat si pengutang seringkali merasa malu dengan keputusan berutang yang dibuatnya. Padahal, tidak semua anggapan negatif itu selalu benar. Lalu, apa saja anggapan yang salah soal utang?

  1. Utang adalah bukti kegagalan finansial seseorang

 

Keputusan seseorang untuk berutang pasti telah dipikirkan secara matang. Ada mereka yang hanya ingin memenuhi keinginan semata, tetapi tidak ingin mengeluarkan uang dalam jumlah besar dalam satu waktu. Ada juga yang menggunakan utang tersebut untuk kebutuhan mendesak yang memang tidak bisa dipenuhi dengan tabungan atau dana darurat, ataupun kebutuhan produktif yang akan menguntungkannya di kemudian hari. Melihat kenyataan ini, utang tidak menandakan seseorang mengalami kegagalan dalam kehidupan finansialnya.

  1. Utang harus dihindari sebisa mungkin

Adanya stigma negatif tentang utang, membuat banyak orang berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya. Padahal, utang sendiri sebenarnya terdiri dari dua jenis, yakni utang produktif dan utang konsumtif. Mungkin Anda bisa menghindari utang konsumtif. Namun, tidak ada salahnya berutang untuk hal yang produktif dan menghasilkan, bukan?

 

  1. Berutang akan membuat hidup Anda rusak

 

Utang harus digunakan secara bijak. Jika Anda menggunakan uang dari hasil berutang hanya untuk memenuhi gaya hidup semata, hal itu bisa saja terjadi. Tetapi, jika Anda menggunakan utang untuk hal-hal yang produktif, Anda tidak hanya bisa melunasi utang tersebut dengan tepat waktu, tetapi juga mendapatkan keuntungan materi.

 

  1. Utang = Miskin

Banyak yang beranggapan kalau orang yang berutang itu miskin, padahal belum tentu. Ada orang yang sengaja berutang sebagai sarana investasi. Misalnya, Anda membeli kendaraan dengan cara berutang. Seiring berjalannya waktu, kendaraan tersebut digunakan tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga diberdayakan sebagai transportasi online. Dengan begini, kendaraan yang Anda beli dengan cara berutang bisa menghasilkan uang tambahan untuk ditabung.

Bisa juga utang memang dibutuhkan untuk kebutuhan yang sangat mendesak, seperti saat menderita penyakit tertentu yang membutuhkan biaya besar. Dalam kondisi seperti itu, dana darurat yang kita miliki kemungkinan besar tidak mencukupi untuk menutup biaya pengobatan.

  1. Utang hanya menghasilkan masalah

 

Berutang akan menjadi masalah ketika ada niat buruk dari yang meminjamkan, yaitu untuk menjebak dengan memberikan bunga harian yang tinggi. Tidak hanya itu, utang juga akan menjadi masalah jika Anda sendiri tidak mampu untuk mengatur yang akhirnya mengakibatkan ketidakmampuan untuk membayar utang. Maka dari itu, Anda harus memikirkan, mana utang yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya keinginan belaka.

Ternyata, tidak semua anggapan miring soal utang benar adanya. Utang perlu dilihat sebagai alat bantu di kala mendesak, atau salah satu cara dalam pengelolaan keuangan. #PilihPakeYakin produk utang yang Anda percaya dapat membantu Anda untuk menjalani hidup lebih baik.

PERHATIAN

Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan layanan FINMAS ini.

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “FINMAS”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

·       Setiap transaksi dan kegiatan pendanaan atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pendanaan antara atau yang melibatkan FINMAS, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh FINMAS sehingga FINMAS wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.