Finmas, Fintech yang Fokus ke Orang Kecil

Finmas, Fintech yang Fokus ke Orang Kecil

23/04/2019

"Ngapain kasih beasiswa ke orang yang tidak punya uang tapi pintar, banyak orang yang sudah ngurusin itu. Kalau mamu, berikan beasiswa pada orang yang nggak punya uang, celakanya juga nggak pintar," kata Peter Lydian Sutiono, Presiden Direktur Finmas, menirukan omongan temannya ketika dia masih bekerja untuk salah satu perusahaan teknologi global di Indonesia.

Pria yang akrab dengan sapaan Peter ini menjelaskan, perusahaan fintech (financial technology) memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari pinjaman online sampai permodalan. Finmas adalah perusahaan fintech yang memberikan pinjaman melalui aplikasi.

Hanya saja, besar pinjaman yang diberikan terbatas, mulai dari Rp500 ribu sampai Rp2 juta. Jika dibandingkan dengan perusahaan fintech lain, total pinjaman yang Finmas berikan memang relatif lebih kecil. 

Tidak heran, karena target pasar Finmas memang adalah golongan menengah bawah dengan pendapatan yang tidak jauh dari UMR (Upan Miniumum Regional).

"Kalau kita melihat target kita, dari kelas menengah ke bawah, kalau kita memberikan pinjaman yang terlalu besar dari yang bisa mereka bayarkan, bukannya kita justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah?" kata Peter ketika ditanya mengapa Finmas membatasi jumlah pinjaman yang bisa didapatkan oleh pengguna Finmas.

"Nggak peduli bagaimana kita mendorong pengguna untuk bisa accountable, nggak semua orang bisa. Karena literasi finansial mereka rendah," ujarnya. Dia menjelaskan, jumlah pinjaman yang diberikan Finmas juga memiliki rumus tersendiri.

"Kami mengikuti guidance yang sudah terbukti. BI (Bank Indonesia) bilang, kalau pinjaman itu hanya boleh yang cicilannya maksimal 30 persen dari pendapatan sebulan."

Peter mengungkap, pembatasan jumlah pinjaman yang diberikan oleh Finmas juga merupakah cara perusahaan untuk beroperasi dengan etis. "Kami ingin pinjaman dari kami memang digunakan untuk meningkatkan taraf hidup. Kami khawatir akan penyalahgunaan data," katanya.

Walau dia tidak tahu persis data terkait perjudian di Indonesia, dia mengaku itu adalah salah satu kekhawatiran penyalahgunaan dana oleh peminjam. Karena itu, dia menjelaskan, kami membatasi besar pinjaman sehingga cukup besar untuk masalah darurat, tapi tidak cukup besar untuk digunakan sebagai "foya-foya."

Peter menjelaskan, tujuan akhir Finmas adalah untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu, laba perusahaan menjadi nomor dua. "Kalau kita cuma mengejar untung tapi mengorbankan masyarakat, itu kan masalah. Kita nggak ke sana. Kami ingin lama di Indonesia," ujarnya.

Finmas Mau Majukan Ekonomi Indonesia, Bagaimana?

Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi terbanyak di dunia. Dengan jumlah warga mencapai 260 juta orang, Tanah Air adalah negara terbesar keempat setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Dari jumlah populasi itu, hanya sekitar 50 persen yang telah memiliki akun bank.

Sayangnya, jumlah orang yang telah mendapatkan layanan kredit, dari total 130 juta orang, hanyalah sekitar 3-4 persen. Tujuan Finmas adalah menyalurkan dana pinjaman dan permodalan pada orang-orang yang selama ini tidak bisa mendapatkan akses ke layanan kredit dari perbankan atau institusi keuangan lainnya.

"Walau orang yang mendapatkan kredit hanya tiga persen, Indonesia sudah memiliki PDB terbesar di ASEAN. Bayangkan kalau angka itu bisa naik 10 persen," ujarnya.

Teman Peter meyakinkannya bahwa tidak hanya anak-anak miskin tapi pintar saja yang berhak untuk mengenyam pendidikan, tapi juga mereka yang tidak mampu dan tidak cerdas.

Sekarang, Peter percaya bahwa orang-orang yang berhak mendapatkan akses ke layanan peminjaman tidak hanya orang-orang di kelas menengah atas, tapi juga orang-orang dalam kelas ekonomi menengah bawah.

"Apakah orang-orang di kelas bawah itu nggak punya kesempatan untuk maju? Siapa yang harus menolong mereka? Kita harus menolong mereka," katanya. Dia menganggap, Finmas memiliki keuntungan jika dibandingkan dengan fintech lain, yaitu jaringan dari Sinar Mas yang luas dan teknologi yang mumpuni.

Namun, dia mengaku, melayani masyarakat di kelas ekonomi kelas menengah bawah bukanlah hal yang mudah. Masalah utamanya adalah literasi keuangan. Jawaban dari masalah ini tentunya adalah edukasi.

Inilah alasan mengapa Finmas begitu erat dengan OJK dan juga asosiasi fintech di Indonesia. Dia menganggap, masalah edukasi adalah sesuatu yang harus dikerjakan oleh semua pihak dan bukannya satu perusahaan atau regulator saja.

Cara Menghindari Pinjaman Online yang Predatory

Sayangnya, tidak semua perusahaan memiliki niat baik seperti Finmas. Tidak sedikit perusahaan pinjaman online yang justru membuat peminjamnya terjerumus dalam jurang hutang.

Terkadang, para peminjam terpaksa gali lubang, tutup lubang -- meminta pinjaman baru dari peminjam lain untuk menutup hutang dari pinjaman yang lama. Cara penagihan yang terkadang tidak manusiawi juga telah mendorong peminjam untuk melakukan aksi nekat dan mencoba melakukan bunuh diri.

Peter mengatakan, walau Finmas menerapkan sistem sedemikian rupa agar peminjam tidak dirugikan, dia mengatakan bahwa perusahaan fintech sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk melakukan itu. Menolak untuk menyalahkan salah satu pihak, dia mengatakan bahwa ada banyak jenis pinjaman online.

"Pertama, legal dan ilegal. Masyarakat harus tahu mana perusahaan yang legal dan mana yang tidak legal," kata Peter. Dia juga mendorong masyarakat untuk hanya meminta pinjaman pada perusahaan yang telah legal.

"Kedua, masalah etis dan tidak etis." Dia menjelaskan, masalah legalitas perusahaan akan memiliki sanksi yang pasti dari penegak hukum. Sementara perusahaan legal yang bertindak tidak etis akan mendapatkan sanksi dari sosial. Dia meyakinkan, pihak Finmas secara aktif berkomunikasi dengan OJK tentang praktek pinjaman yang tidak hanya legal, tapi juga beretika.

"Masyarakat harus paham, kalau perlu pinjaman, pastikan ke perusahaan yang mengikuti peraturan OJK. Kalau terjadi penyimpangan, tinggal laporkan ke OJK," ungkapnya. Cara untuk memeriksa apakah sebuah perusahaan fintech memang sudah teregister, Anda bisa melakukannya di situs OJK.

Masa Depan Finmas

Ke depan, Peter merasa, kesempatan besar terbuka dalam bisnis offline ke online. Sayangnya, salah satu masalah yang ada adalah keengganan masyarakat untuk mencoba.

"Kadang kita berpikir, kalau kita memberikan smartphone pada pengguna, semua aplikasi ada di handphone, masalah akan terselesaikan," kata Peter. "Masalahnya, orang yang tidak memiliki pengalaman berbelanja online mungkin akan takut."

Dia bercerita, salah satu temannya, yang juga merupakan penjual tiket online, transaksi terbesarnya berasal dari transfer bank. Dia sendiri mengaku, meski dia telah bekerja di dunia teknologi selama 25 tahun, dia sempat enggan untuk menggunakan kartu kredit untuk melakukan pembayaran ketika berbelanja online.

Solusi yang Finmas coba adalah dengan menyediakan agen di lapangan. "Sekarang, telah ada 412 orang yang bekerja di lapangan," ujarnya. Dengan bangga dia mengatakan, sejak bulan Juli lalu, angka agen Finmas di lapangan telah bertambah dengan sangat cepat, dari hanya 18 orang menjadi 412 orang.

"Jadi, peluang ada di offline ke online. Kita butuh, pertama, produk finansial. Kedua, infrastruktur, Tapi infrastruktur teknologi saja tidak cukup, kita juga perlu manusia," ujarnya.

Sumber : Medcom.co.id

PERHATIAN

Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan layanan FINMAS ini.

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “FINMAS”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

·       Setiap transaksi dan kegiatan pendanaan atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pendanaan antara atau yang melibatkan FINMAS, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh FINMAS sehingga FINMAS wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.