Perbedaan Fintech dengan Institusi Finansial Konvensional

Perbedaan Fintech dengan Institusi Finansial Konvensional

06/12/2021

Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah gaya hidup, tetapi juga cara kita berbisnis. Salah satu industri yang terpengaruh oleh teknologi modern ialah sektor perbankan. Berkat penemuan-penemuan terkini, misalnya bot obrolan dan jaringan internet 4G, interaksi dan pengalaman nasabah perbankan benar-benar berubah drastis.

Bicara tentang penemuan, fintech menjadi invensi yang belakangan ini ramai dibicarakan. Tidak hanya menawarkan akses perbankan yang segar dan inovatif, layanan keuangan tersebut bahkan menyaingi institusi finansial konvensional. Penggunaannya yang mudah untuk mentransfer dana, mengelola bisnis, dan membeli produk hanya dengan sekali klik membuat fintech diminati masyarakat.

Namun, apa yang membedakan fintech dengan jasa perbankan pada umumnya? Mari cari tahu jawabannya lewat pembahasan tentang fintech dan institusi finansial konvensional berikut!

Sekilas tentang Fintech

Fintech merupakan gabungan dari kata "financial" dan "technology". Istilah ini merujuk kepada segala bisnis yang menggunakan teknologi untuk mengotomatiskan dan mengembangkan proses sekaligus jasa keuangan.

Fintech mulai dicetuskan pada akhir 1990-an, tepatnya ketika bisnis e-commerce dan internet baru-baru muncul. Kemudian, pada abad ke-21, institusi-institusi finansial mulai menggunakan teknologi untuk mendigitalkan perbankan. Sejak saat itu, fintech mengubah fokusnya menjadi layanan yang berorientasi pada konsumen.

Layanan keuangan ini meliputi berbagai industri yang sedang bertumbuh signifikan di masa modern. Sebut saja, asuransi dan perbankan berbasis mobile, instrumen investasi, penggalangan dana, serta mata uang kripto.

Di Indonesia sendiri, ada banyak pilihan fintech yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam hal pendanaan. Salah satu contohnya adalah Finmas, perusahaan peer-to-peer lending yang telah berizin OJK.

Mengenal Institusi Finansial Konvensional

Institusi finansial konvensional, seperti perbankan, merupakan entitas berlisensi yang melayani individu atau bisnis dalam penerimaan deposit dan pengadaan pinjaman. Sebagian dari institusi ini juga menawarkan jasa finansial lain, seperti manajemen aset, penukaran valas, atau Safe Deposit Box (SDB).

Terdapat beragam jenis institusi keuangan konvensional, di antaranya adalah bank investasi, bank korporasi, dan bank ritel. Mayoritas negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, mengatur institusi-institusi tersebut dengan menugaskan bank sentral atau pemerintah dalam negeri.

Apa Perbedaan dari Fintech dan Institusi Finansial Konvensional?

Pada dasarnya, fintech dan institusi keuangan konvensional memiliki persamaan: keduanya bertujuan menyediakan layanan finansial yang transparan. Namun, ada beberapa aspek yang membuat berbeda:

  • Fokus

Perusahaan fintech berfokus pada pengalaman konsumen melalui personalisasi, kenyamanan, aksesibilitas, dan fungsionalitas. Sementara itu, institusi tradisional lebih fokus kepada keamanan dan manajemen risiko finansial.

  • Potensi Ruang Lingkup

Berkat tren penggunaan teknologi dan pengembangan perangkat, seperti ponsel pintar, fintech memiliki distribusi pasar yang lebih besar. Di sisi lain, distribusi pasar dari institusi konvensional cenderung terbatas.

  • Struktur

Struktur organisasi dalam fintech relatif lebih mudah menerima tren yang mengedepankan inovasi. Sementara itu, institusi konvensional memiliki struktur organisasi ketat yang membatasi perubahan inovatif.

  • Target konsumen

Fintech menargetkan konsumen yang minim rekam jejak di sektor pinjam-meminjam. Di sisi lain, institusi konvensional mengincar konsumen dengan rating kredit menjanjikan sekaligus histori yang terjamin.

  • Ketergantungan terhadap teknologi

Institusi konvensional tidak terlalu bergantung pada teknologi, sedangkan fintech sebaliknya sangat mengedepankan teknologi dalam produknya sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Demikian sekilas info tentang fintech dan institusi finansial konvensional yang patut Anda ketahui. Sudah paham perbedaan antara keduanya, bukan? Jika ditanya tentang mana yang lebih baik, tentu jawabannya sulit ditemukan. Kedua layanan keuangan ini mempunyai keuntungan dan risiko tersendiri. Jadi, Sahabat Finmas tinggal pilih jasa yang terbaik berdasarkan kebutuhan dan kemampuan!

PERHATIAN

 

 

·       Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

 

 

 

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

 

 

 

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) dapat mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Penggunaan Informasi Personal tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

 

 

 

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan Layanan FINMAS ini.

 

 

 

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

 

 

 

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial. 

 

 

 

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

 

 

 

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “Perusahaan”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

 

 

 

·       Setiap transaksi dan kegiatan pinjam meminjam atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pinjam meminjam antara atau yang melibatkan Perusahaan, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui rekening penampungan (escrow account) dan rekening virtual (virtual account) sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10 /POJK.05/2022tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh Perusahaan sehingga Perusahaan wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

 

 

 

·       Dengan menggunakan Layanan Finmas, maka Suku Bunga, Tanggal Jatuh Tempo, Denda Keterlambatan, dan Biaya-Biaya Lainnya akan mengacu pada Perjanjian Pendanaan antara Pemberi Dana dan Penerima Dana yang merupakan perjanjian yang mengikat Para Pihak.