Cara Memilih Pinjaman Modal Usaha Lewat Platform P2P

Cara Memilih Pinjaman Modal Usaha Lewat Platform P2P

07/01/2022

Akhir-akhir ini, makin banyak seruan untuk memulai usaha sendiri. Sayangnya, tidak semua orang memiliki modal yang cukup untuk memulai usahanya. Pinjaman melalui bank sebagai opsi pinjaman modal usaha yang sering digunakan orang terkadang begitu merepotkan. Sebab, pinjaman melalui bank seringkali membutuhkan agunan dan beragam syarat lain yang terkesan memberatkan.

Lantas, bagaimana solusinya? Salah satu solusi yang ada saat ini adalah mengambil pinjaman melalui platform P2P lending. Apa sebenarnya P2P lending dan bagaimana cara yang tepat untuk memilih perusahaan pemberi pinjaman P2P ini?

Definisi P2P lending

Menurut OJK, P2P lending didefinisikan sebagai salah satu metode pembiayaan/pendanaan yang dilakukan oleh kreditur (penyedia dana) kepada debitur (peminjam dana) melalui teknologi informasi. ‘Teknologi informasi’ yang dimaksud adalah pemanfaatan aplikasi fintech lending yang dimiliki perusahaan-perusahaan penyedia jasa pinjaman tersebut.

Platform P2P lending menjadi opsi pinjaman modal usaha yang tepat apabila peminjam (borrower) membutuhkan pendanaan tanpa perlu urusan bertele-tele. Selain itu, pinjaman dana di Fintech yang menyediakan jasa P2P juga disukai publik dikarenakan metode pinjaman dana ini tidak membutuhkan agunan/jaminan.  Oleh karena itulah, banyak pemilik usaha yang mengajukan pinjaman dana melalui sistem P2P lending. Apalagi jika mereka membutuhkan pendanaan cepat dengan proses yang antiribet.

Cara Memilih Platform P2P untuk Pinjaman Modal Usaha

Nah, jika Anda tertarik untuk mengajukan pinjaman modal melalui platform P2P, hal-hal berikut perlu Anda perhatikan sebelum memutuskan untuk melakukan pinjaman modal pada salah satu platform.

  1. Pastikan platform P2P tersebut sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Karena jasa pinjaman P2P tergolong masih baru dan Anda belum tahu banyak tentang perusahaan-perusahaan di balik platform P2P tersebut, perlu ada lembaga yang mengatur dan mengawasi jasa keuangan ini agar tidak merugikan nasabah-nasabahnya.

Di Indonesia, lembaga yang bertugas mengawasi perusahaan-perusahaan ini adalah OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Maka dari itu, pastikan bahwa perusahaan penyedia pinjaman Anda sudah terdaftar dan diawasi oleh lembaga ini.

  1. Pilih platform dengan suku bunga, biaya, dan tenor yang tidak menyulitkan

Dibandingkan dengan suku bunga pinjaman modal usaha dari bank, pinjaman modal dari platform P2P ini biasanya jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui berapa cicilan yang harus Anda bayarkan berikut biaya pinjamannya berdasarkan tenor yang dipilih. Karena suku bunga pinjaman di platform P2P ini lebih tinggi, Anda perlu memikirkan juga kemampuan bayar Anda sebagai seorang debitur. Apabila Anda merasa masih belum mampu, tidak ada salahnya untuk mundur, kok.

Selain itu, perlu Anda teliti juga suku bunga untuk jenis pembiayaan yang Anda inginkan. Sebab, ada beberapa jenis pinjaman yang ditawarkan oleh perusahaan jasa keuangan, misalnya: pembiayaan produktif (untuk modal usaha) dan pembiayaan konsumtif (untuk penggunaan pribadi, rumah, dll.), serta untuk pembiayaan pendidikan. Semua jenis pembiayaan tersebut pada umumnya memiliki suku bunga pinjaman yang berbeda-beda.

  1. Pertimbangkan juga waktu pencairan dana

P2P lending terkenal cepat dalam urusan pencairan dana. Bahkan, ada perusahaan yang mau mencairkan pinjaman yang Anda ajukan dalam hitungan hari saja. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui hal ini juga sebelum memutuskan untuk memilih salah satu platform P2P. Sebab, semakin cepat Anda menerima dana, semakin cepat pula Anda bisa menggunakan dana tersebut, namun semakin cepat pula Anda harus membayarnya bukan?

Selain ketiga poin di atas, akan lebih baik jika Anda memilih platform P2P dengan user interface yang mudah. Pilih juga platform yang dapat memberikan informasi yang jelas mengenai sistem pinjaman yang berlaku di perusahaannya. Hal ini perlu dilakukan agar Anda tahu bagaimana sistem pinjaman modal usaha sebelum memutuskan untuk menjadi debitur dari jasa keuangan tersebut.

PERHATIAN

 

 

·       Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

 

 

 

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

 

 

 

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) dapat mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Penggunaan Informasi Personal tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

 

 

 

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan Layanan FINMAS ini.

 

 

 

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

 

 

 

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial. 

 

 

 

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

 

 

 

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “Perusahaan”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

 

 

 

·       Setiap transaksi dan kegiatan pinjam meminjam atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pinjam meminjam antara atau yang melibatkan Perusahaan, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui rekening penampungan (escrow account) dan rekening virtual (virtual account) sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10 /POJK.05/2022tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh Perusahaan sehingga Perusahaan wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

 

 

 

·       Dengan menggunakan Layanan Finmas, maka Suku Bunga, Tanggal Jatuh Tempo, Denda Keterlambatan, dan Biaya-Biaya Lainnya akan mengacu pada Perjanjian Pendanaan antara Pemberi Dana dan Penerima Dana yang merupakan perjanjian yang mengikat Para Pihak.