5 Sebab Industri Fintech Berkembang Pesat di Indonesia

5 Sebab Industri Fintech Berkembang Pesat di Indonesia

23/01/2022

Teknologi digital yang semakin berkembang pesat membawa dampak yang signifikan pada seluruh aspek kehidupan. Salah satunya adalah pada aspek keuangan. Perkembangan fintech sebagai salah satu jenis layanan start-up begitu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Apa Itu Financial Technology?

FinTech merupakan jenis jasa pelayanan yang ditawarkan oleh perusahaan start-up kepada semua jenis kalangan masyarakat yang memiliki keinginan untuk menggunakan layanan keuangan secara efisien, praktis, mudah, dan biaya rendah.

Terbukti bahwa saat ini hampir semua orang menggunakan jasa layanan teknologi keuangan digital untuk kegiatan ekonomi sehari-hari. Apalagi di zaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, ketika transaksi keuangan secara langsung dengan penggunaan uang tunai lebih dibatasi.

Hal ini bisa terlihat di berbagai pusat perbelanjaan. Orang akan lebih diarahkan melakukan pembayaran melalui transfer atau dompet digital sebagai salah satu fitur layanan teknologi keuangan ini.

Tidak hanya dalam transaksi jual beli, fintech juga hadir dengan jenis-jenis seperti microfinancing dan peer to peer lending service yang dapat membantu keuangan masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses pada perbankan. Lalu, apa yang menyebabkan perkembangan fintech begitu pesat di Indonesia?

Menjangkau Seluruh Kalangan

Tidak dimungkiri, teknologi memberikan bantuan terkait akses finansial kepada masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses di perbankan. Adanya persyaratan yang banyak dan menyulitkan membuat masyarakat kalangan bawah tidak bisa menikmati layanan keuangan ini.

Hadirnya microfinancing yang memberikan kesempatan layanan keuangan kepada masyarakat menengah ke bawah dengan memberikan pinjaman modal usaha pada peminjam guna mengembangkan usaha dalam skala kecil.

Selain adanya bantuan untuk modal usaha, fintech juga memberikan layanan peer to peer lending service, yaitu kegiatan meminjamkan uang kepada masyarakat yang membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa melalui proses rumit yang sering ditemui di bank.  Salah satu perusahaan start-up yang bergerak di bidang pinjaman online P2P adalah Finmas yang sudah mengantongi izin dari OJK sehingga dipastikan aman.

Praktis, Efisien, dan Fleksibel

Dengan perkembangan fintech yang begitu pesat ini membuat transaksi keuangan menjadi semakin praktis, efisien, dan juga fleksibel yang disukai masyarakat. Bagi yang menyukai belanja online pasti sudah sangat akrab dengan berbagai jenis dompet digital. Semua transaksi pembelian langsung terjadi dalam waktu beberapa detik saja tanpa adanya transaksi tunai tatap muka.

Platform untuk Berdonasi dengan Mudah

Penyebab mengapa perkembangan fintech begitu cepat di Indonesia salah satunya adalah karena adanya jenis layanan crowdfunding  yang memungkinkan masyarakat berdonasi lebih mudah dan praktis.

Masyarakat Indonesia cenderung memiliki jiwa sosial yang tinggi dan tidak segan untuk membantu orang lain yang kesusahan. Adanya aplikasi perusahaan start-up yang menyediakan layanan donasi dengan praktis ini tentu juga menjadi penyebab pesatnya perkembangan fintech.

Terjamin Keamanannya

Walaupun semua serba digital dan cepat, fintech sudah terjamin keamanannya sehingga konsumen tidak perlu khawatir data pribadi akan tersebar ke mana-mana. Adanya metode keamanan yang terenkripsi akan menjamin data pelanggan tetap aman. Selain itu, sudah banyak perusahaan fintech yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan sehingga konsumen tidak perlu merasa resah dan takut bertransaksi secara ilegal.

Perkembangan fintech di Indonesia memang memiliki beragam manfaat berupa kemudahan yang sangat patut untuk disyukuri. Namun, pihak pengguna juga harus memiliki batasan agar diri dan kehidupan tidak semakin terkontrol oleh teknologi.

PERHATIAN

Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan layanan FINMAS ini.

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “FINMAS”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

·       Setiap transaksi dan kegiatan pendanaan atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pendanaan antara atau yang melibatkan FINMAS, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh FINMAS sehingga FINMAS wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.