5 Faktor Penyebab Pengajuan Pinjaman Uang Ditolak

5 Faktor Penyebab Pengajuan Pinjaman Uang Ditolak

23/12/2021

Mengajukan pinjaman uang pribadi memang susah-susah gampang. Baik itu pinjaman di lembaga perbankan maupun non-bank, semuanya sama-sama menerapkan persyaratan yang banyak. Beberapa orang yang baru pertama kali menggunakan layanan pinjaman online pun sering gagal mengajukan pinjaman.

Banyak yang terkadang tidak tahu pasti apa alasannya meskipun merasa sudah mengikuti alur pengajuan yang diberlakukan. Masalahnya beberapa lembaga kerap kali tidak menginformasikan alasan ditolaknya pengajuan. Nah, apabila Anda sedang mengalami masalah tersebut, lima faktor penyebab gagalnya pengajuan pinjaman di bawah ini wajib untuk diketahui.

  • Tidak Lolos Verifikasi

Semua pengajuan pinjaman selalu melalui proses verifikasi. Ini diterapkan agar pihak lembaga keuangan bisa memastikan keabsahan data pribadi dan dokumen yang telah dilampirkan oleh calon debitur. Umumnya, proses verifikasi dilakukan oleh pihak peminjam melalui panggilan telepon.

Pengajuan otomatis akan ditolak apabila calon debitur tidak bisa menerima panggilan. Sebab itu, pastikan untuk mencantumkan nomor telepon yang benar. Juga, pastikan nomor tersebut merupakan nomor yang sering Anda gunakan untuk melakukan atau menerima panggilan.

  • Dokumen Persyaratan Tidak Lengkap

Syarat pengajuan pinjaman pribadi melalui lembaga finansial berbasis digital (fintech) yang terkesan gampang membuat banyak calon debitur meremehkannya. Apalagi jika sudah berbicara soal kelengkapan data. Calon nasabah tetap harus memperhatikan dokumen persyaratan yang harus dilampirkan.

Hal tersebut perlu dilakukan mengingat lembaga keuangan juga membutuhkan data diri calon nasabah secara rinci untuk meminimalisir risiko penipuan. Jadi, sebelum mengajukan pinjaman, pastikan untuk mengetahui semua dokumen persyaratan yang dibutuhkan. Pastikan juga data-data tersebut tidak dalam keadaan rusak.

  • Terindikasi Pemalsuan Data

Melalui proses verifikasi data, lembaga pemberi pinjaman bisa mengetahui ada atau tidaknya indikasi pemalsuan data yang dilakukan oleh calon debitur. Mengingat tindakan seperti ini termasuk melawan hukum, otomatis lembaga keuangan akan langsung menolak pengajuan pinjaman.

Jika calon nasabah tersebut terbukti ingin melakukan pemalsuan data, maka namanya akan masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia. Jika sudah begitu, sangat mustahil bagi orang tersebut untuk bisa mengajukan pinjaman, termasuk pinjaman uang pribadi melalui perusahaan fintech.

  • Nominal Pinjaman Melebihi Limit

Faktor yang berikut ini merupakan yang paling sering terjadi. Calon nasabah umumnya mengajukan pinjaman dengan nominal melebihi batas yang ditentukan oleh perusahaan. Misal, limit pinjaman 5 juta, namun ada calon debitur mengajukan 5,5 juta.

Nominal yang melebihi limit jelas akan langsung ditolak oleh perusahaan. Pada dasarnya, adanya limit pinjaman diterapkan guna menghindari risiko kredit macet yang justru akan merugikan pihak pemberi pinjaman.

Batas pinjaman itu sendiri ditetapkan oleh perusahaan berdasarkan skor kredit dan kemampuan finansial calon nasabah. Oleh sebab itu, penting bagi para calon debitur untuk mengecek limit pinjaman dan pastikan untuk tidak melebihi batas yang sudah ditentukan.

  • Buruknya Skor Kredit

Calon nasabah yang sering menunggak pembayaran pinjaman merupakan nasabah yang paling sering ditolak oleh lembaga keuangan. Perusahaan bisa mengecek skor kredit melalui data yang tersimpan di Bank Indonesia.

Apabila skor kredit rendah karena nasabah sering menunggak cicilan, otomatis pengajuan pinjaman akan langsung ditolak. Alasan utama lembaga keuangan melakukan hal ini tidak lain adalah untuk menghindari terjadinya hal yang sama.

Itu tadi 5 faktor mengapa pengajuan pinjaman uang pribadi ditolak. Jika Anda mengalami hal tersebut, tak ada salahnya untuk kembali mencari layanan pinjaman lain yang menerapkan syarat pengajuan yang ringan.

PERHATIAN

 

 

·       Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Dana dengan Penerima Dana, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

 

 

 

·       Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Dana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

 

 

 

·       Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana) dapat mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Penggunaan Informasi Personal tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

 

 

 

·       Pemberi Dana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pendanaan, disarankan untuk tidak menggunakan Layanan FINMAS ini.

 

 

 

·       Penerima Dana harus mempertimbangkan tingkat bunga Dana dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi Dana.

 

 

 

·       Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial. 

 

 

 

·       Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Dana atau Penerima Dana.

 

 

 

·       Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Dana maupun Penerima Dana (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara (dalam hal ini adalah “Perusahaan”) dengan Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana.

 

 

 

·       Setiap transaksi dan kegiatan pinjam meminjam atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pinjam meminjam antara atau yang melibatkan Perusahaan, Pemberi Dana dan/atau Penerima Dana wajib dilakukan melalui rekening penampungan (escrow account) dan rekening virtual (virtual account) sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10 /POJK.05/2022tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh Perusahaan sehingga Perusahaan wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut diatas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

 

 

 

·       Dengan menggunakan Layanan Finmas, maka Suku Bunga, Tanggal Jatuh Tempo, Denda Keterlambatan, dan Biaya-Biaya Lainnya akan mengacu pada Perjanjian Pendanaan antara Pemberi Dana dan Penerima Dana yang merupakan perjanjian yang mengikat Para Pihak.